sms ketiga: "ya, abang. bagi adek yang penting abang jangan tinggalkan adek, adek gak sanggub, bang.adek tidak bisa hubungi abang di nomor yang lama, siang malam etap tidak bisa adek hubungi, apa dengan kakak bang"
Astafirullah sayang, sayang....setelah kita berdebat malam itu, kau tetap tidak berubah. Tidak kah kau sadar juga dengan apa yang ku katakan padamu? apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar? apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali ke anak-anakmu?
Tidak kusangka, hubungan kalian begitu dekat dan dalam. entah apa yang kau lihat padanya namun tidak padaku. anak-anak menyangka jika kau mengalami pubermu yang kedua. tapi haruskah dengan dia sayang? mengapa kau tidak mencari orang yang lebih baik dariku, setidaknya aku bisa menyadari jika itu memang kelemahanku.
lihatlah mereka sayang, mereka mengidamkanmu sebagai ayah yang patut mereka banggakan. Dengan begitu mereka juga bisa menjaga harga diri mereka di depan suami-suaminya. Tetapi, jika begini ceritanya? bagaimana mereka berhadapan dengan anak-anak dan suami mereka? mengetahui kalau ayah si ibu, tidak dapat menjaga kehormatan dirinya sendiri.
sudahlah sayang, ku telah mencoba. jika tidak juga kau berubah, aku tidak ada pilihan, selain mendengarkan anak-anak. maaf......................