Rabu, 03 September 2008

Wanita Selingkuhannya 2

sms kedua: "abang, baju abang ada di adek. Baju putih abang ada dua terus yang hitam. Dan ada celana dalam putih abang. kalau yang abang tanya ke adek, tidak ada abang. mungkin abang minta cucikan dengan orang lain, jadi mereka yang bawa, atau mungkin ke bawa ke rumah, bang"

sms ketiga: "ya, abang. bagi adek yang penting abang jangan tinggalkan adek, adek gak sanggub, bang.adek tidak bisa hubungi abang di nomor yang lama, siang malam etap tidak bisa adek hubungi, apa dengan kakak bang"

Astafirullah sayang, sayang....setelah kita berdebat malam itu, kau tetap tidak berubah. Tidak kah kau sadar juga dengan apa yang ku katakan padamu? apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar? apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali ke anak-anakmu?

Tidak kusangka, hubungan kalian begitu dekat dan dalam. entah apa yang kau lihat padanya namun tidak padaku. anak-anak menyangka jika kau mengalami pubermu yang kedua. tapi haruskah dengan dia sayang? mengapa kau tidak mencari orang yang lebih baik dariku, setidaknya aku bisa menyadari jika itu memang kelemahanku.

anak-anakmu sudah menangis dan kecewa mendengar aduanku. aku juga tidak bermaksud mengadukanmu pada anak-anak. Tapi aku tidak sanggub lagi menahan ini semua sendirian, hanya ada anak-anak yang mau mendengarkanku. Meski ku tahu mereka akan terluka, aku sama sekali tidak ada pilihan.

lihatlah mereka sayang, mereka mengidamkanmu sebagai ayah yang patut mereka banggakan. Dengan begitu mereka juga bisa menjaga harga diri mereka di depan suami-suaminya. Tetapi, jika begini ceritanya? bagaimana mereka berhadapan dengan anak-anak dan suami mereka? mengetahui kalau ayah si ibu, tidak dapat menjaga kehormatan dirinya sendiri.

sudahlah sayang, ku telah mencoba. jika tidak juga kau berubah, aku tidak ada pilihan, selain mendengarkan anak-anak. maaf......................

Wanita Selingkuhannya

Wanita itu termangu. Ia tidak kuasa menahan seluruh emosi di dadanya. Ia benci...Ia gundah...Ia kesal...ia tersakiti hatinya...dan ia pun menangis.....

sms pertama:
"ya adek kangen ke abang, jujur bang..walau kakak dan anak abang suka sms dan telepon adek dengan kata-kata yang menyakitkan hati adek, tapi adek tetap sayang ke abang. abang janji ya ke adek, habis sahur adek tunggu. adek kangen dengan suara abang, kalau adek dah dengar suara abang baru adek percaya abang. emmuah"...

ayah..ayah, tega sekali dikau. apa yang salah dariku, yah. aku tahu aku sakit-sakitan, aku tau aku tidak lagi bisa memuaskan hasratmu, aku tidak lagi muda seperti wanita itu.

tapi apakah kau lupa bagaimana aku mengurusmu selama 20 tahun lebih ini..?bagaimana aku menjaga, melahirkan dan membesarkan anak-anakmu?bagaimana dengan setianya aku menjaga cinta kita meski banyak lelaki yang ingin mendekatiku?bagaimana aku menjaga dan menghormati keluargamu?

apakah kau yakin, ia akan memperlakukanmu dengan cara yang sama ketika kau sedang susah, sakit, miskin dan tua?apa jaminannya ayah?apakah kau rela kehilangan anak-anakmu?tidakkah kau tahu keputusan dan keegoisanmu itu tidak hanya menyakiti aku dan anak-anakmu tetapi juga keluargamu sendiri terutama ayah mertuaku.

sayang-sayang, aku rela menunggumu berubah selama pernikahan kita. aku putuskan untuk selalu diam dan diam melihatmu menduakanku. hingga akhirnya saat kita terpuruk dalam perekonomian yang buruk, kau kembali ke pangkuanku. meskipun sudah kau sakiti hatiku, aku tetap mencintaimu.

tapi sayang, aku tidak sanggub melihat anak-anak terluka ketika mereka tahu apa yang kau lakukan padaku. lupakah kau jika mereka semua adalah perempuan?tak takutkah kau apa yang menimpaku saat ini juga menimpa mereka?

tak sadarkah kau sakitnya hati mereka mendengarmu bersama wanita itu? bahkan, si kakak sulung sempat menyumpahimu dan terpikir untuk tidak memandikan jenajah mu ketika kau menghadap-NYA?

sudahlah sayang, aku masih rela menerimamu. sudahilah hubungan tidak halal mu itu. namun, perlu kau tahu, anak-anak sudah memintaku menceraikanmu, berpisah darimu. Meski aku tidak ingin, tapi apa yang dikatakan anak-anak benar. "Aku tidak ingin sepanjang hidupku, sakit hati karenamu, hingga membuatku berdosa sepenuhnya kepadamu jika aku tetap menjadi istrimu"...