mereka terpukul..
bukan hati, melainkan jiwanya
mereka terpukul...
bahkan sampai ketakutan
kalau-kalau ku melupakan mereka
aku jadi bertanya..
mengapa semua itu harus ditunjukkan?
mengapa aku harus menutup diri agar mereka bahagia?
mengapa semua menjadi begitu rumit untuk berkomunikasi dengan mereka
"sampai-sampai papa mengatakan 'mungkin kalau kita tua nanti kita tetap sendirian ya ma..',"dan kau pun meneteskan air mata...
mengapa aku tetap merasa jika kau tidak ingin dipersalahkan
jika kau tetap merasa bahwa itu semua tanggungjawab kami anak-anakmu
tidakkah kau sadari, kondisi yang berjauhan telah membuat jarak diantara kita
sama dengan jarakmu dengan dia
tidakkah kau pelajari bahwa kami dididik dengan kemandirian
sehingga kami tidak terbiasa menjadi begitu sensitif dan peka untuk mengetahui kondisimu
namun yang pasti...
kita semua belum bisa belajar memahami
kita belum bisa menerima apapun keadaan masing-masing
yang bisa kita lakukan hanyalah....
menuntut..dan menuntut
Selasa, 22 Juli 2008
Happy Ending
Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin, teman..
tapi kulihat semua kecurigaanmu luluh dengan pertemuan itu
ku bersyukur pengorbananku memanggilmu
berujung dengan kebahagianmu
bahkan kau mengatakan tetes air mata mengalir di masing-masing pipi kalian
tetes air mata yang menyiratkan kebahagiaan,
kesedihan,
kegelisahan, dan juga rasa bersalah
aku tidak tahu apakah itu benar
karena kalian selalu menutup diri di depan ku, teman
aku tidak tahu apakah kalian sengaja bersikap bahagia
ketika melihatku begitu terpengaruh
aku senang
jika memang itu bukan pura-pura saja
tak kupikirkan lembaran-lembaran uang yang terbang dari saku ku
hanya untuk membuatmu bertemu dengannya
dan berbicara...
ya berbicara...kadang karena jarak yang jauh
kalian jadi begitu lupa
akan kehadiran masing-masing pasangan
kalian menjadi begitu tidak peka
atas perasaan masing-masing pasangan
smoga pertemuan singkat itu melegakan hatimu
karena terakahir kau katakan
"aku sedih karena memikirkan bahwa aku harus meninggalkannya sndiri lagi..."
tapi kulihat semua kecurigaanmu luluh dengan pertemuan itu
ku bersyukur pengorbananku memanggilmu
berujung dengan kebahagianmu
bahkan kau mengatakan tetes air mata mengalir di masing-masing pipi kalian
tetes air mata yang menyiratkan kebahagiaan,
kesedihan,
kegelisahan, dan juga rasa bersalah
aku tidak tahu apakah itu benar
karena kalian selalu menutup diri di depan ku, teman
aku tidak tahu apakah kalian sengaja bersikap bahagia
ketika melihatku begitu terpengaruh
aku senang
jika memang itu bukan pura-pura saja
tak kupikirkan lembaran-lembaran uang yang terbang dari saku ku
hanya untuk membuatmu bertemu dengannya
dan berbicara...
ya berbicara...kadang karena jarak yang jauh
kalian jadi begitu lupa
akan kehadiran masing-masing pasangan
kalian menjadi begitu tidak peka
atas perasaan masing-masing pasangan
smoga pertemuan singkat itu melegakan hatimu
karena terakahir kau katakan
"aku sedih karena memikirkan bahwa aku harus meninggalkannya sndiri lagi..."
Langganan:
Postingan (Atom)