"Sebagai manusia aku bisa tergoda dan keluar batas. Pada kondisi itu tentunya ku berharap kau bisa menarik ku kembali ke jalur yang benar.."
Bangsat!!! Mudah sekali ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Tidakkah ia pernah mendengar jika manusia juga punya batas kesabaran? Anjing!!
Dilemparnya telepon genggam yang berisikan pesan singkat dari pasangan hidupnya itu. Entah mengapa, tidak lagi ia merasa terharu saat membaca pesan-pesan pendek itu. Bahkan kata percayapun kini tidak terbersit lagi di kepalanya.
"Komitmen ku adalah untuk mencintai dan menjagamu, hingga kapanpun,"
ANJINGGGG!!! Apa maunya??!!
Kembali ia mengingat kata-kata terakhir di pesan yang segera berpindah ke box trash. Ia begitu geram, karena lelaki tua itu tidak lagi punya keberanian untuk mengucapkan langsung kalimat itu dengan bibir-bibirnya yang sudah keriput itu.
Si wanita yakin, laki-laki itu pasti memiliki lebih keberanian jika harus berhadapan dengan para perek-perek itu. Cuiihhhh....rasa jijik langsung menyelimutinya..
Setetes demi tetes, air mata menetes membasahi pipi-pipinya yang sudah layu dimakan zaman. Rambutnya yang sudah mulai meninggalkan jejak-jejak pitak di kulit kepalanya, tidak lagi mampu menjadi mahkota penghias diri.
"Aku sadar aku tidak lagi cantik, tidak lagi sehat..tapi apakah pantas kau perlakukan aku seperti itu.??"ujarnya sambil terisak dibalik kelamnya kamar seluas tiga kali tiga meter itu.
Ia teringat saat-saat semua orang-orang terdekatnya berupaya untuk menentang keinginannya menikahi laki-laki yang dipanggilnya, 'yang' itu. "Sudahlah, ris, hentikan ide konyolmu itu. Kau kan tahu benar bagaimana tabiatnya,"ujar seorang teman dekat.
Risna hanya bisa menatap awan-awan putih yang menyelimuti langit kota Medan saat itu. Dibalik rindangnya pohon matoa, ia mencoba memahami...menyelami...ia tahu benar bahwa keputusan itu bagaikan tantangan arung jeram.
"Deras memang...curam memang...tapi menyenangkan bermain dengan maut..."ujarnya lirih. "Apa?"tanya sang teman yang tidak paham maksud dibalik perkataaan Risna.
"Hah, tenanglah kawan, Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang dia macam-macam ketika sudah menikahi ku, akan kupotong kunung-nya,"ujarnya lantang sambil tertawa.
..Aku tidak mungkin melakukannya, aku punya anak-anak yang harus tetap bangga atas ayahnya. Aku kalah. Kalah dalam permainannya. Kalah dalam medan perang yang kupilih sendiri.
ia menunduk...menunduk...semakin dalam...berupaya mencari kekuatan yang dulu pernah tertanam di hatinya..
(suci, 10/06/08)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar