Bukan aku tidak ingin membantumu keluar dari masalahmu dengannya..
tapi posisi ku sulit untuk berpihak
bagaimanapun aku harus dengan jelas melihat masalah ini
aku begitu mudah terpengaruh, teman...
aku tidak mau informasi yang terbatas ini merubah pandanganku atasnya
jika mendengar paksaanmu, rasanya aku sangat bersyukur ketika kau memilih untuk tidak melibatkan ku...
Dengan tulus, aku ingin membantu mu keluar dari masalah itu
tapi, aku tidak ingin dengan cara licik seperti ini
membuntutinya...mencuri-curi waktu untuk memergokinya
mencari kesempatan untuk membenarkan perkiraanmu
aku tahu, hanya aku yang bisa kau andalkan dalam masalah ini
tapi jujur aku sangat benci atas paksaanmu itu
ini hubungan kalian berdua
tidak ada kewajibanku untuk mencari jalan keluar atas masalahmu
karena aku adalah anakmu...ya anak kalian berdua...
tidak mungkin aku memilih...
tidak mungkin aku hanya membantu satu pihak
meski aku tahu pihak lain sangat bersalah atas mu..
tolonglah pahami..
aku punya cara tersendiri untuk membantumu keluar dari masalah ini teman..
yakinkan di hatimu bahwa kau bisa keluar dari masalah ini
meski jalan yang ditempuh berduri dan penuh dengan kepahitan...
atau bahkan jalan yang penuh dengan kemanisan dan keteduhan hati...
percayalah jalan yang kau pilih bukan jalan yang terbaik dimataku..
(to mama, 12/06/08)
Kamis, 12 Juni 2008
Selasa, 10 Juni 2008
Kemudahan Dibalik Nafsu
"Sebagai manusia aku bisa tergoda dan keluar batas. Pada kondisi itu tentunya ku berharap kau bisa menarik ku kembali ke jalur yang benar.."
Bangsat!!! Mudah sekali ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Tidakkah ia pernah mendengar jika manusia juga punya batas kesabaran? Anjing!!
Dilemparnya telepon genggam yang berisikan pesan singkat dari pasangan hidupnya itu. Entah mengapa, tidak lagi ia merasa terharu saat membaca pesan-pesan pendek itu. Bahkan kata percayapun kini tidak terbersit lagi di kepalanya.
"Komitmen ku adalah untuk mencintai dan menjagamu, hingga kapanpun,"
ANJINGGGG!!! Apa maunya??!!
Kembali ia mengingat kata-kata terakhir di pesan yang segera berpindah ke box trash. Ia begitu geram, karena lelaki tua itu tidak lagi punya keberanian untuk mengucapkan langsung kalimat itu dengan bibir-bibirnya yang sudah keriput itu.
Si wanita yakin, laki-laki itu pasti memiliki lebih keberanian jika harus berhadapan dengan para perek-perek itu. Cuiihhhh....rasa jijik langsung menyelimutinya..
Setetes demi tetes, air mata menetes membasahi pipi-pipinya yang sudah layu dimakan zaman. Rambutnya yang sudah mulai meninggalkan jejak-jejak pitak di kulit kepalanya, tidak lagi mampu menjadi mahkota penghias diri.
"Aku sadar aku tidak lagi cantik, tidak lagi sehat..tapi apakah pantas kau perlakukan aku seperti itu.??"ujarnya sambil terisak dibalik kelamnya kamar seluas tiga kali tiga meter itu.
Ia teringat saat-saat semua orang-orang terdekatnya berupaya untuk menentang keinginannya menikahi laki-laki yang dipanggilnya, 'yang' itu. "Sudahlah, ris, hentikan ide konyolmu itu. Kau kan tahu benar bagaimana tabiatnya,"ujar seorang teman dekat.
Risna hanya bisa menatap awan-awan putih yang menyelimuti langit kota Medan saat itu. Dibalik rindangnya pohon matoa, ia mencoba memahami...menyelami...ia tahu benar bahwa keputusan itu bagaikan tantangan arung jeram.
"Deras memang...curam memang...tapi menyenangkan bermain dengan maut..."ujarnya lirih. "Apa?"tanya sang teman yang tidak paham maksud dibalik perkataaan Risna.
"Hah, tenanglah kawan, Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang dia macam-macam ketika sudah menikahi ku, akan kupotong kunung-nya,"ujarnya lantang sambil tertawa.
..Aku tidak mungkin melakukannya, aku punya anak-anak yang harus tetap bangga atas ayahnya. Aku kalah. Kalah dalam permainannya. Kalah dalam medan perang yang kupilih sendiri.
ia menunduk...menunduk...semakin dalam...berupaya mencari kekuatan yang dulu pernah tertanam di hatinya..
(suci, 10/06/08)
Bangsat!!! Mudah sekali ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Tidakkah ia pernah mendengar jika manusia juga punya batas kesabaran? Anjing!!
Dilemparnya telepon genggam yang berisikan pesan singkat dari pasangan hidupnya itu. Entah mengapa, tidak lagi ia merasa terharu saat membaca pesan-pesan pendek itu. Bahkan kata percayapun kini tidak terbersit lagi di kepalanya.
"Komitmen ku adalah untuk mencintai dan menjagamu, hingga kapanpun,"
ANJINGGGG!!! Apa maunya??!!
Kembali ia mengingat kata-kata terakhir di pesan yang segera berpindah ke box trash. Ia begitu geram, karena lelaki tua itu tidak lagi punya keberanian untuk mengucapkan langsung kalimat itu dengan bibir-bibirnya yang sudah keriput itu.
Si wanita yakin, laki-laki itu pasti memiliki lebih keberanian jika harus berhadapan dengan para perek-perek itu. Cuiihhhh....rasa jijik langsung menyelimutinya..
Setetes demi tetes, air mata menetes membasahi pipi-pipinya yang sudah layu dimakan zaman. Rambutnya yang sudah mulai meninggalkan jejak-jejak pitak di kulit kepalanya, tidak lagi mampu menjadi mahkota penghias diri.
"Aku sadar aku tidak lagi cantik, tidak lagi sehat..tapi apakah pantas kau perlakukan aku seperti itu.??"ujarnya sambil terisak dibalik kelamnya kamar seluas tiga kali tiga meter itu.
Ia teringat saat-saat semua orang-orang terdekatnya berupaya untuk menentang keinginannya menikahi laki-laki yang dipanggilnya, 'yang' itu. "Sudahlah, ris, hentikan ide konyolmu itu. Kau kan tahu benar bagaimana tabiatnya,"ujar seorang teman dekat.
Risna hanya bisa menatap awan-awan putih yang menyelimuti langit kota Medan saat itu. Dibalik rindangnya pohon matoa, ia mencoba memahami...menyelami...ia tahu benar bahwa keputusan itu bagaikan tantangan arung jeram.
"Deras memang...curam memang...tapi menyenangkan bermain dengan maut..."ujarnya lirih. "Apa?"tanya sang teman yang tidak paham maksud dibalik perkataaan Risna.
"Hah, tenanglah kawan, Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang dia macam-macam ketika sudah menikahi ku, akan kupotong kunung-nya,"ujarnya lantang sambil tertawa.
..Aku tidak mungkin melakukannya, aku punya anak-anak yang harus tetap bangga atas ayahnya. Aku kalah. Kalah dalam permainannya. Kalah dalam medan perang yang kupilih sendiri.
ia menunduk...menunduk...semakin dalam...berupaya mencari kekuatan yang dulu pernah tertanam di hatinya..
(suci, 10/06/08)
Langganan:
Postingan (Atom)