Wanita itu menangis dan menangis. Lampu kamarnya begitu redup, seredup hatinya menahan luka. Kesetiaan, kepercayaan, dan rasa cintanya, runtuh seketika. Saat dia yang menjadi pasangan hidupnya, semakin jauh...jauh...dan menjauh.
Pria itu tertawa terbahak-bahak. Dirangkulnya perempuan semohai dan berpakaian ketat itu. Badan mereka tergoncang-goncang begitu asiknya. Entah karena sensi humor mereka yang memang bagus, atau hanya mencari kesempatan di balik tawa canda itu.
Wanita itu merenung, seusai tetes mata airnya yang terakhir berlinang. Secara perlahan, ia menggerakkan jemari-jemarinya yang memang sudah lemah itu, merangkai kata-kata hatinya. "Aku sudah tidak tahan, ia harus tahu perasaanku. Aku bukan wanita yang bodoh..."
Wanita seksi itu terus memandang laki-laki setengah baya di sampingnya itu. Sempat terbesit rasa kasihan pada lelaki yang baru dikenalnya setahun terakhir itu. Pria yang sudah memiliki empat anak, tiga putri dan satu putra bungsu. Juga seorang istri yang sepuluh tahun terakhir ini sakit-sakitan karena mengindap kanker di tubuhnya.
Lelaki itu jarang membicarakan keluarganya, seakan-akan ia tidak ingin terlalu ambil pusing dengan keluarga yang ia tinggalkan di kampung itu. Ia terbawa arus rekan-rekan sekerjanya, yang gila perempuan. Meski di hatinya, sejujurnya, ia akan mati jika kehilangan keluarganya.
"sayang, aku sudah mencoba dan berusaha untuk berfikir bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi saat kau pergi di sana, sama seperti yang kau katakan padaku. Tapi aku tidak bisa. Karena begitu banyak kejanggalan dengan sikap dan polah mu saat engkau kembali ke rumah".
"Aku sadar tubuhku sudah tua, tidak lagi bisa seiring dengan nafsumu. Tapi aku tidak mau lagi kau sakiti, sudah cukup derita yang ku tanggung dari wanita-wanita terdahulu mu itu. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki perasaan dan kesabaran. Jadi tolonglah tinggalkan kami dengan perasaan yang aman saat kau kembali mengais-ngais rejeki di luar sana,".
Sesaat, ia memandangi rentetan-rentetan kata yang ia rajut sesuai suara hatinya itu. Ia rela jika akhirnya nanti keputusan pahit akan menjadi akhirnya. Karena ia tidak lagi mau, hatinya hancur hingga membawanya ke liang lahat.
Dipandanginya, anak laki-laki bertubuh gembul di sampingnya. "Ia tidak tahu apa-apa, apa yang harus ku lakukan...tidak mungkin ku melukai perasaannya, dia pasti akan sangat membenci ayahnya...ya tuhan, apa yang harus ku lakukan". Air matanya kembali menetes, dan si anak terbangun, kebingungan melihat si ibu menangis sepanjang hari.
"Sudah, ayo pulang, mas..sudah malam,"
"hah, sewot sekali kau, sama seperti istriku," sambil ia beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya, sambil di papah sang wanita.
*************************************************************************************
laki-laki....entah mengapa mereka dilahirkan dengan tabiat yang seperti binatang. Sekali mengecap nikmatnya darah, mereka akan terus berburu. Semoga dia tidak...
(suci)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar