Sabtu, 31 Mei 2008

Cinta Karena Komitmen

"Menurutmu, apa benar wanita butuh komitmen?"tanyanya padaku.
"Tentu..tidak mungkin jika memang ada perasaan antara kalian, lalu kau membuatnya menggantung begitu saja dengan status yang tidak jelas,"jawabku.

Sejenak mimiknya terlihat bak seorang profesor yang tengah sibuk berfikir. Kedua kakinya melipat ke dada. Tangan kanannya menompang dagu sementara tangan lainnya berpangku di atas kedua lututnya. Sesekali ia memperbaiki tatanan rambutnya, berusaha tetap terlihat relaks. Tapi ku tahu, ia sedang memupuk keberaniannya.

"Lalu, menurutmu aku harus menyatakan perasaanku?"tanyanya lagi.
Ya, iyalah. Masa iya dong. jawabku di dalam hati.

"Apa kau mau membuatnya terus menunggu? Mungkin saja hari ini sudah sekian laki-laki meminta belas cintanya.."jawabku mencoba memanas-manasinya.


Sekali lagi, suasana kembali sunyi. Hanya suara elang-elang Bondol yang tengah mengejar mangsa, terdengar mengisi waktu diantara kami. Kucoba menahan hatiku, tidak sekalipun aku memandangnya. Satu dua butir batu kerikil yang menjadi alas tubuh kami berdua, ku lempar demi mengalihkan perhatian. Karena ku tahu ia sedang mengumpulkan keberaniannya.

"Baiklah. Sebenarnya aku sudah lama suka pada mu". Haah, akhirnya kata-kata itu terucap juga. Mengapa lama sekali ia baru menyadari perasaannya, setelah sekian lama sinyal-sinyal cinta kukirimkan untuknya. "Bagaimana dengan mu?"tanyanya.

Aku terdiam, berfikir mencari kata-kata yang tepat untuknya. Kata-kata yang kami berdua tidak akan melupakannya. "Bagaimana?"sekali lagi ia bertanya, dan aku pun tetap diam. Dasar laki-laki, apa ia tidak tahu diam itulah seluruh jawabanku.

Saat keberanian itu muncul, kuangguk kan kepalaku. Sekali...dua kali, dan akhirnya kuberanikan diri memandang ke dalam matanya.."ya, aku juga suka padamu,"terbata-bata ku menjawabnya.

Kami pun tersenyum. Tidak pernah terbayangkan, jika lelaki satu ini akhirnya menanggapi sinyal-sinyalku. Setelah sekian lama menunggu, laki-laki bodoh ini, tetap melihatku sebagai teman. Meski, teman laki-laki ku yang lainnya, sudah berusaha membuka matanya.

"Jadi bagaimana, apa sejak hari ini kita jadian?"tanyaku. "ya, tentu saja mengapa tidak. Jika memang harusku nyatakan itu,"ujarnya sambil menyenggol jemari-jemariku tanpa menggenggamnya. Ya, kami memang masih malu-malu.

**********************************************************************************

Terimakasi sayang, atas keberanianmu saat itu. Elang-elang di sarang itu, menjadi saksi kita berdua. Angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan bambu-bambu itu, terus mengumandangkan cinta kita. Juli nanti, menandakan cinta kita. Lima tahun sudah kita merajut perkenalan ke perkenalan lainnya. Semoga tahun ini menjadi akhir sekaligus permulaan bagi kisah cinta kita. Berbalutkan kebaya putih, akan ku sambut dirimu di atas pelaminan. (suci)

Jumat, 30 Mei 2008

Nafsu Membutakannya

Wanita itu menangis dan menangis. Lampu kamarnya begitu redup, seredup hatinya menahan luka. Kesetiaan, kepercayaan, dan rasa cintanya, runtuh seketika. Saat dia yang menjadi pasangan hidupnya, semakin jauh...jauh...dan menjauh.

Pria itu tertawa terbahak-bahak. Dirangkulnya perempuan semohai dan berpakaian ketat itu. Badan mereka tergoncang-goncang begitu asiknya. Entah karena sensi humor mereka yang memang bagus, atau hanya mencari kesempatan di balik tawa canda itu.

Wanita itu merenung, seusai tetes mata airnya yang terakhir berlinang. Secara perlahan, ia menggerakkan jemari-jemarinya yang memang sudah lemah itu, merangkai kata-kata hatinya. "Aku sudah tidak tahan, ia harus tahu perasaanku. Aku bukan wanita yang bodoh..."

Wanita seksi itu terus memandang laki-laki setengah baya di sampingnya itu. Sempat terbesit rasa kasihan pada lelaki yang baru dikenalnya setahun terakhir itu. Pria yang sudah memiliki empat anak, tiga putri dan satu putra bungsu. Juga seorang istri yang sepuluh tahun terakhir ini sakit-sakitan karena mengindap kanker di tubuhnya.

Lelaki itu jarang membicarakan keluarganya, seakan-akan ia tidak ingin terlalu ambil pusing dengan keluarga yang ia tinggalkan di kampung itu. Ia terbawa arus rekan-rekan sekerjanya, yang gila perempuan. Meski di hatinya, sejujurnya, ia akan mati jika kehilangan keluarganya.

"sayang, aku sudah mencoba dan berusaha untuk berfikir bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi saat kau pergi di sana, sama seperti yang kau katakan padaku. Tapi aku tidak bisa. Karena begitu banyak kejanggalan dengan sikap dan polah mu saat engkau kembali ke rumah".

"Aku sadar tubuhku sudah tua, tidak lagi bisa seiring dengan nafsumu. Tapi aku tidak mau lagi kau sakiti, sudah cukup derita yang ku tanggung dari wanita-wanita terdahulu mu itu. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki perasaan dan kesabaran. Jadi tolonglah tinggalkan kami dengan perasaan yang aman saat kau kembali mengais-ngais rejeki di luar sana,".

Sesaat, ia memandangi rentetan-rentetan kata yang ia rajut sesuai suara hatinya itu. Ia rela jika akhirnya nanti keputusan pahit akan menjadi akhirnya. Karena ia tidak lagi mau, hatinya hancur hingga membawanya ke liang lahat.

Dipandanginya, anak laki-laki bertubuh gembul di sampingnya. "Ia tidak tahu apa-apa, apa yang harus ku lakukan...tidak mungkin ku melukai perasaannya, dia pasti akan sangat membenci ayahnya...ya tuhan, apa yang harus ku lakukan". Air matanya kembali menetes, dan si anak terbangun, kebingungan melihat si ibu menangis sepanjang hari.

"Sudah, ayo pulang, mas..sudah malam,"
"hah, sewot sekali kau, sama seperti istriku," sambil ia beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya, sambil di papah sang wanita.

*************************************************************************************
laki-laki....entah mengapa mereka dilahirkan dengan tabiat yang seperti binatang. Sekali mengecap nikmatnya darah, mereka akan terus berburu. Semoga dia tidak...
(suci)

Kamis, 29 Mei 2008

uji coba yang pertama

tes...tes...hehehe, ini mah bukan cerita pendek, kalau pun iya akan pendek sekali..jadi selamat datang buat kalian-kalian yang tertipu dengan keberadaan blog ku yang satu ini. tapi sabar aja, karena gak akan lama lagi akan terisi cerita-cerita kok...jadi sabar ya...