Alhamdulillah...setelah sekian banyak cobaan besar dan kecil yang kami hadapi, akhirnya tepat tanggal 22 November 2008, pukul 07.30, kami berdua telah dipersatukan oleh Allah dalam satu pernikahan yang baroqah.
Meski mata sedikit berat, karena bergadang dan kurang tidur, tapi kami berdua tetap mengembangkan senyuman karena ini adalah awal kehidupan yang baru. Bahkan, seorang teman berkata, "Wah pasangan ini nyengir terus ya...,".
Haha, kalo bukan tersenyum apa lagi yang bisa di perbuat? Tidak mungkin rasanya menyambut tamu dengan wajah yang masam...meski ada juga hal -hal kecil yang membuat panitia acara dongkol (panitia keluarga), tapi hari itu kami berdua berprinsip, bahwa ini adalah hari yang bahagia buat kami berdua. Jadi meski semua puyeng, pengantin kudu tetap senyum...hehehe
Oh ya, buat pembaca blog ini, maaf loh, jadi keputus-putus ni item tulisannya. Tapi insyaalah segala kebutuhan pengalaman bisa kita sharing sedikit demi sedikit ya..jadi jangan lupa mampir lagi ya di blog ini..thanks ya..
OH YA,...jangan lupa dan doa untuk kami berdua ya. semoga dalam kehidupan berumah tangga ini kami tetap dalam lindungan dan kasih sayang Sang MAHA SATU. dan buat teman-teman, rekan-rekan, om& tante, serta Bapak&Ibu lain yang sudah berkesempatan hadir di pesta, saya dan suami ucapkan terimakasih banyak. Serta mohon maaf jika ada kekurangan dalam keberlangsungan acara ya...terimakasi banyak....
Senin, 08 Desember 2008
Rabu, 08 Oktober 2008
Pusiiingggg
Astafirullah....astafirullah....
mengapa begini membingungkan memikirkan sebuah acara sekali dalam hidup ini
jika memang tak sanggup mengeluarkan dana yang besar
jangan paksakan
jangan berikan harapan padaku
katakan saja
bukankah sudah ku katakan
mesjid yang menjadi saksi pun sudah cukup
Rasulullah saja tidak pernah memaksakan diri begitu

sudahlah...
aku lelah dengan pertimbangan dan ke tidakjelasan sikap kalian berdua
cukup..cukup...
biar aku yang memutuskan bagaimana jalan hidup kami berdua
biar kami yang belajar memulai kehidupan ini dari awal
biar pernikahan ini menjadi tanggung jawab kami
meski kami tidak bisa memberi seindah mimpi kalian berdua
setidaknya tidak ada ketidakjelasan di dalamnya
terimakasi atas mimpi yang kalian berdua berikan
tapi biarkan kami yang menguntai awal benang kehidupan ini...
mengapa begini membingungkan memikirkan sebuah acara sekali dalam hidup ini
jika memang tak sanggup mengeluarkan dana yang besar
jangan paksakan
jangan berikan harapan padaku
katakan saja
bukankah sudah ku katakan
mesjid yang menjadi saksi pun sudah cukup
Rasulullah saja tidak pernah memaksakan diri begitu
sudahlah...
aku lelah dengan pertimbangan dan ke tidakjelasan sikap kalian berdua
cukup..cukup...
biar aku yang memutuskan bagaimana jalan hidup kami berdua
biar kami yang belajar memulai kehidupan ini dari awal
biar pernikahan ini menjadi tanggung jawab kami
meski kami tidak bisa memberi seindah mimpi kalian berdua
setidaknya tidak ada ketidakjelasan di dalamnya
terimakasi atas mimpi yang kalian berdua berikan
tapi biarkan kami yang menguntai awal benang kehidupan ini...
Rabu, 03 September 2008
Wanita Selingkuhannya 2
sms kedua: "abang, baju abang ada di adek. Baju putih abang ada dua terus yang hitam. Dan ada celana dalam putih abang. kalau yang abang tanya ke adek, tidak ada abang. mungkin abang minta cucikan dengan orang lain, jadi mereka yang bawa, atau mungkin ke bawa ke rumah, bang"
sms ketiga: "ya, abang. bagi adek yang penting abang jangan tinggalkan adek, adek gak sanggub, bang.adek tidak bisa hubungi abang di nomor yang lama, siang malam etap tidak bisa adek hubungi, apa dengan kakak bang"
Astafirullah sayang, sayang....setelah kita berdebat malam itu, kau tetap tidak berubah. Tidak kah kau sadar juga dengan apa yang ku katakan padamu? apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar? apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali ke anak-anakmu?
Tidak kusangka, hubungan kalian begitu dekat dan dalam. entah apa yang kau lihat padanya namun tidak padaku. anak-anak menyangka jika kau mengalami pubermu yang kedua. tapi haruskah dengan dia sayang? mengapa kau tidak mencari orang yang lebih baik dariku, setidaknya aku bisa menyadari jika itu memang kelemahanku.
anak-anakmu sudah menangis dan kecewa mendengar aduanku. aku juga tidak bermaksud mengadukanmu pada anak-anak. Tapi aku tidak sanggub lagi menahan ini semua sendirian, hanya ada anak-anak yang mau mendengarkanku. Meski ku tahu mereka akan terluka, aku sama sekali tidak ada pilihan.
lihatlah mereka sayang, mereka mengidamkanmu sebagai ayah yang patut mereka banggakan. Dengan begitu mereka juga bisa menjaga harga diri mereka di depan suami-suaminya. Tetapi, jika begini ceritanya? bagaimana mereka berhadapan dengan anak-anak dan suami mereka? mengetahui kalau ayah si ibu, tidak dapat menjaga kehormatan dirinya sendiri.
sudahlah sayang, ku telah mencoba. jika tidak juga kau berubah, aku tidak ada pilihan, selain mendengarkan anak-anak. maaf......................
sms ketiga: "ya, abang. bagi adek yang penting abang jangan tinggalkan adek, adek gak sanggub, bang.adek tidak bisa hubungi abang di nomor yang lama, siang malam etap tidak bisa adek hubungi, apa dengan kakak bang"
Astafirullah sayang, sayang....setelah kita berdebat malam itu, kau tetap tidak berubah. Tidak kah kau sadar juga dengan apa yang ku katakan padamu? apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikanmu ke jalan yang benar? apa yang harus ku lakukan agar kau mau kembali ke anak-anakmu?
Tidak kusangka, hubungan kalian begitu dekat dan dalam. entah apa yang kau lihat padanya namun tidak padaku. anak-anak menyangka jika kau mengalami pubermu yang kedua. tapi haruskah dengan dia sayang? mengapa kau tidak mencari orang yang lebih baik dariku, setidaknya aku bisa menyadari jika itu memang kelemahanku.
lihatlah mereka sayang, mereka mengidamkanmu sebagai ayah yang patut mereka banggakan. Dengan begitu mereka juga bisa menjaga harga diri mereka di depan suami-suaminya. Tetapi, jika begini ceritanya? bagaimana mereka berhadapan dengan anak-anak dan suami mereka? mengetahui kalau ayah si ibu, tidak dapat menjaga kehormatan dirinya sendiri.
sudahlah sayang, ku telah mencoba. jika tidak juga kau berubah, aku tidak ada pilihan, selain mendengarkan anak-anak. maaf......................
Wanita Selingkuhannya
Wanita itu termangu. Ia tidak kuasa menahan seluruh emosi di dadanya. Ia benci...Ia gundah...Ia kesal...ia tersakiti hatinya...dan ia pun menangis.....
sms pertama:
"ya adek kangen ke abang, jujur bang..walau kakak dan anak abang suka sms dan telepon adek dengan kata-kata yang menyakitkan hati adek, tapi adek tetap sayang ke abang. abang janji ya ke adek, habis sahur adek tunggu. adek kangen dengan suara abang, kalau adek dah dengar suara abang baru adek percaya abang. emmuah"...
ayah..ayah, tega sekali dikau. apa yang salah dariku, yah. aku tahu aku sakit-sakitan, aku tau aku tidak lagi bisa memuaskan hasratmu, aku tidak lagi muda seperti wanita itu.
tapi apakah kau lupa bagaimana aku mengurusmu selama 20 tahun lebih ini..?bagaimana aku menjaga, melahirkan dan membesarkan anak-anakmu?bagaimana dengan setianya aku menjaga cinta kita meski banyak lelaki yang ingin mendekatiku?bagaimana aku menjaga dan menghormati keluargamu?
apakah kau yakin, ia akan memperlakukanmu dengan cara yang sama ketika kau sedang susah, sakit, miskin dan tua?apa jaminannya ayah?apakah kau rela kehilangan anak-anakmu?tidakkah kau tahu keputusan dan keegoisanmu itu tidak hanya menyakiti aku dan anak-anakmu tetapi juga keluargamu sendiri terutama ayah mertuaku.
sayang-sayang, aku rela menunggumu berubah selama pernikahan kita. aku putuskan untuk selalu diam dan diam melihatmu menduakanku. hingga akhirnya saat kita terpuruk dalam perekonomian yang buruk, kau kembali ke pangkuanku. meskipun sudah kau sakiti hatiku, aku tetap mencintaimu.
tapi sayang, aku tidak sanggub melihat anak-anak terluka ketika mereka tahu apa yang kau lakukan padaku. lupakah kau jika mereka semua adalah perempuan?tak takutkah kau apa yang menimpaku saat ini juga menimpa mereka?
tak sadarkah kau sakitnya hati mereka mendengarmu bersama wanita itu? bahkan, si kakak sulung sempat menyumpahimu dan terpikir untuk tidak memandikan jenajah mu ketika kau menghadap-NYA?
sudahlah sayang, aku masih rela menerimamu. sudahilah hubungan tidak halal mu itu. namun, perlu kau tahu, anak-anak sudah memintaku menceraikanmu, berpisah darimu. Meski aku tidak ingin, tapi apa yang dikatakan anak-anak benar. "Aku tidak ingin sepanjang hidupku, sakit hati karenamu, hingga membuatku berdosa sepenuhnya kepadamu jika aku tetap menjadi istrimu"...
sms pertama:
"ya adek kangen ke abang, jujur bang..walau kakak dan anak abang suka sms dan telepon adek dengan kata-kata yang menyakitkan hati adek, tapi adek tetap sayang ke abang. abang janji ya ke adek, habis sahur adek tunggu. adek kangen dengan suara abang, kalau adek dah dengar suara abang baru adek percaya abang. emmuah"...
ayah..ayah, tega sekali dikau. apa yang salah dariku, yah. aku tahu aku sakit-sakitan, aku tau aku tidak lagi bisa memuaskan hasratmu, aku tidak lagi muda seperti wanita itu.
tapi apakah kau lupa bagaimana aku mengurusmu selama 20 tahun lebih ini..?bagaimana aku menjaga, melahirkan dan membesarkan anak-anakmu?bagaimana dengan setianya aku menjaga cinta kita meski banyak lelaki yang ingin mendekatiku?bagaimana aku menjaga dan menghormati keluargamu?
apakah kau yakin, ia akan memperlakukanmu dengan cara yang sama ketika kau sedang susah, sakit, miskin dan tua?apa jaminannya ayah?apakah kau rela kehilangan anak-anakmu?tidakkah kau tahu keputusan dan keegoisanmu itu tidak hanya menyakiti aku dan anak-anakmu tetapi juga keluargamu sendiri terutama ayah mertuaku.
sayang-sayang, aku rela menunggumu berubah selama pernikahan kita. aku putuskan untuk selalu diam dan diam melihatmu menduakanku. hingga akhirnya saat kita terpuruk dalam perekonomian yang buruk, kau kembali ke pangkuanku. meskipun sudah kau sakiti hatiku, aku tetap mencintaimu.
tapi sayang, aku tidak sanggub melihat anak-anak terluka ketika mereka tahu apa yang kau lakukan padaku. lupakah kau jika mereka semua adalah perempuan?tak takutkah kau apa yang menimpaku saat ini juga menimpa mereka?
tak sadarkah kau sakitnya hati mereka mendengarmu bersama wanita itu? bahkan, si kakak sulung sempat menyumpahimu dan terpikir untuk tidak memandikan jenajah mu ketika kau menghadap-NYA?
sudahlah sayang, aku masih rela menerimamu. sudahilah hubungan tidak halal mu itu. namun, perlu kau tahu, anak-anak sudah memintaku menceraikanmu, berpisah darimu. Meski aku tidak ingin, tapi apa yang dikatakan anak-anak benar. "Aku tidak ingin sepanjang hidupku, sakit hati karenamu, hingga membuatku berdosa sepenuhnya kepadamu jika aku tetap menjadi istrimu"...
Label:
istri diduakan,
selingkuhan,
suami selingkuh
Selasa, 22 Juli 2008
Mereka Terpukul
mereka terpukul..
bukan hati, melainkan jiwanya
mereka terpukul...
bahkan sampai ketakutan
kalau-kalau ku melupakan mereka
aku jadi bertanya..
mengapa semua itu harus ditunjukkan?
mengapa aku harus menutup diri agar mereka bahagia?
mengapa semua menjadi begitu rumit untuk berkomunikasi dengan mereka
"sampai-sampai papa mengatakan 'mungkin kalau kita tua nanti kita tetap sendirian ya ma..',"dan kau pun meneteskan air mata...
mengapa aku tetap merasa jika kau tidak ingin dipersalahkan
jika kau tetap merasa bahwa itu semua tanggungjawab kami anak-anakmu
tidakkah kau sadari, kondisi yang berjauhan telah membuat jarak diantara kita
sama dengan jarakmu dengan dia
tidakkah kau pelajari bahwa kami dididik dengan kemandirian
sehingga kami tidak terbiasa menjadi begitu sensitif dan peka untuk mengetahui kondisimu
namun yang pasti...
kita semua belum bisa belajar memahami
kita belum bisa menerima apapun keadaan masing-masing
yang bisa kita lakukan hanyalah....
menuntut..dan menuntut
bukan hati, melainkan jiwanya
mereka terpukul...
bahkan sampai ketakutan
kalau-kalau ku melupakan mereka
aku jadi bertanya..
mengapa semua itu harus ditunjukkan?
mengapa aku harus menutup diri agar mereka bahagia?
mengapa semua menjadi begitu rumit untuk berkomunikasi dengan mereka
"sampai-sampai papa mengatakan 'mungkin kalau kita tua nanti kita tetap sendirian ya ma..',"dan kau pun meneteskan air mata...
mengapa aku tetap merasa jika kau tidak ingin dipersalahkan
jika kau tetap merasa bahwa itu semua tanggungjawab kami anak-anakmu
tidakkah kau sadari, kondisi yang berjauhan telah membuat jarak diantara kita
sama dengan jarakmu dengan dia
tidakkah kau pelajari bahwa kami dididik dengan kemandirian
sehingga kami tidak terbiasa menjadi begitu sensitif dan peka untuk mengetahui kondisimu
namun yang pasti...
kita semua belum bisa belajar memahami
kita belum bisa menerima apapun keadaan masing-masing
yang bisa kita lakukan hanyalah....
menuntut..dan menuntut
Happy Ending
Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin, teman..
tapi kulihat semua kecurigaanmu luluh dengan pertemuan itu
ku bersyukur pengorbananku memanggilmu
berujung dengan kebahagianmu
bahkan kau mengatakan tetes air mata mengalir di masing-masing pipi kalian
tetes air mata yang menyiratkan kebahagiaan,
kesedihan,
kegelisahan, dan juga rasa bersalah
aku tidak tahu apakah itu benar
karena kalian selalu menutup diri di depan ku, teman
aku tidak tahu apakah kalian sengaja bersikap bahagia
ketika melihatku begitu terpengaruh
aku senang
jika memang itu bukan pura-pura saja
tak kupikirkan lembaran-lembaran uang yang terbang dari saku ku
hanya untuk membuatmu bertemu dengannya
dan berbicara...
ya berbicara...kadang karena jarak yang jauh
kalian jadi begitu lupa
akan kehadiran masing-masing pasangan
kalian menjadi begitu tidak peka
atas perasaan masing-masing pasangan
smoga pertemuan singkat itu melegakan hatimu
karena terakahir kau katakan
"aku sedih karena memikirkan bahwa aku harus meninggalkannya sndiri lagi..."
tapi kulihat semua kecurigaanmu luluh dengan pertemuan itu
ku bersyukur pengorbananku memanggilmu
berujung dengan kebahagianmu
bahkan kau mengatakan tetes air mata mengalir di masing-masing pipi kalian
tetes air mata yang menyiratkan kebahagiaan,
kesedihan,
kegelisahan, dan juga rasa bersalah
aku tidak tahu apakah itu benar
karena kalian selalu menutup diri di depan ku, teman
aku tidak tahu apakah kalian sengaja bersikap bahagia
ketika melihatku begitu terpengaruh
aku senang
jika memang itu bukan pura-pura saja
tak kupikirkan lembaran-lembaran uang yang terbang dari saku ku
hanya untuk membuatmu bertemu dengannya
dan berbicara...
ya berbicara...kadang karena jarak yang jauh
kalian jadi begitu lupa
akan kehadiran masing-masing pasangan
kalian menjadi begitu tidak peka
atas perasaan masing-masing pasangan
smoga pertemuan singkat itu melegakan hatimu
karena terakahir kau katakan
"aku sedih karena memikirkan bahwa aku harus meninggalkannya sndiri lagi..."
Kamis, 12 Juni 2008
Aku Tidak Mau Tahu.....
Bukan aku tidak ingin membantumu keluar dari masalahmu dengannya..
tapi posisi ku sulit untuk berpihak
bagaimanapun aku harus dengan jelas melihat masalah ini
aku begitu mudah terpengaruh, teman...
aku tidak mau informasi yang terbatas ini merubah pandanganku atasnya
jika mendengar paksaanmu, rasanya aku sangat bersyukur ketika kau memilih untuk tidak melibatkan ku...
Dengan tulus, aku ingin membantu mu keluar dari masalah itu
tapi, aku tidak ingin dengan cara licik seperti ini
membuntutinya...mencuri-curi waktu untuk memergokinya
mencari kesempatan untuk membenarkan perkiraanmu
aku tahu, hanya aku yang bisa kau andalkan dalam masalah ini
tapi jujur aku sangat benci atas paksaanmu itu
ini hubungan kalian berdua
tidak ada kewajibanku untuk mencari jalan keluar atas masalahmu
karena aku adalah anakmu...ya anak kalian berdua...
tidak mungkin aku memilih...
tidak mungkin aku hanya membantu satu pihak
meski aku tahu pihak lain sangat bersalah atas mu..
tolonglah pahami..
aku punya cara tersendiri untuk membantumu keluar dari masalah ini teman..
yakinkan di hatimu bahwa kau bisa keluar dari masalah ini
meski jalan yang ditempuh berduri dan penuh dengan kepahitan...
atau bahkan jalan yang penuh dengan kemanisan dan keteduhan hati...
percayalah jalan yang kau pilih bukan jalan yang terbaik dimataku..
(to mama, 12/06/08)
tapi posisi ku sulit untuk berpihak
bagaimanapun aku harus dengan jelas melihat masalah ini
aku begitu mudah terpengaruh, teman...
aku tidak mau informasi yang terbatas ini merubah pandanganku atasnya
jika mendengar paksaanmu, rasanya aku sangat bersyukur ketika kau memilih untuk tidak melibatkan ku...
Dengan tulus, aku ingin membantu mu keluar dari masalah itu
tapi, aku tidak ingin dengan cara licik seperti ini
membuntutinya...mencuri-curi waktu untuk memergokinya
mencari kesempatan untuk membenarkan perkiraanmu
aku tahu, hanya aku yang bisa kau andalkan dalam masalah ini
tapi jujur aku sangat benci atas paksaanmu itu
ini hubungan kalian berdua
tidak ada kewajibanku untuk mencari jalan keluar atas masalahmu
karena aku adalah anakmu...ya anak kalian berdua...
tidak mungkin aku memilih...
tidak mungkin aku hanya membantu satu pihak
meski aku tahu pihak lain sangat bersalah atas mu..
tolonglah pahami..
aku punya cara tersendiri untuk membantumu keluar dari masalah ini teman..
yakinkan di hatimu bahwa kau bisa keluar dari masalah ini
meski jalan yang ditempuh berduri dan penuh dengan kepahitan...
atau bahkan jalan yang penuh dengan kemanisan dan keteduhan hati...
percayalah jalan yang kau pilih bukan jalan yang terbaik dimataku..
(to mama, 12/06/08)
Selasa, 10 Juni 2008
Kemudahan Dibalik Nafsu
"Sebagai manusia aku bisa tergoda dan keluar batas. Pada kondisi itu tentunya ku berharap kau bisa menarik ku kembali ke jalur yang benar.."
Bangsat!!! Mudah sekali ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Tidakkah ia pernah mendengar jika manusia juga punya batas kesabaran? Anjing!!
Dilemparnya telepon genggam yang berisikan pesan singkat dari pasangan hidupnya itu. Entah mengapa, tidak lagi ia merasa terharu saat membaca pesan-pesan pendek itu. Bahkan kata percayapun kini tidak terbersit lagi di kepalanya.
"Komitmen ku adalah untuk mencintai dan menjagamu, hingga kapanpun,"
ANJINGGGG!!! Apa maunya??!!
Kembali ia mengingat kata-kata terakhir di pesan yang segera berpindah ke box trash. Ia begitu geram, karena lelaki tua itu tidak lagi punya keberanian untuk mengucapkan langsung kalimat itu dengan bibir-bibirnya yang sudah keriput itu.
Si wanita yakin, laki-laki itu pasti memiliki lebih keberanian jika harus berhadapan dengan para perek-perek itu. Cuiihhhh....rasa jijik langsung menyelimutinya..
Setetes demi tetes, air mata menetes membasahi pipi-pipinya yang sudah layu dimakan zaman. Rambutnya yang sudah mulai meninggalkan jejak-jejak pitak di kulit kepalanya, tidak lagi mampu menjadi mahkota penghias diri.
"Aku sadar aku tidak lagi cantik, tidak lagi sehat..tapi apakah pantas kau perlakukan aku seperti itu.??"ujarnya sambil terisak dibalik kelamnya kamar seluas tiga kali tiga meter itu.
Ia teringat saat-saat semua orang-orang terdekatnya berupaya untuk menentang keinginannya menikahi laki-laki yang dipanggilnya, 'yang' itu. "Sudahlah, ris, hentikan ide konyolmu itu. Kau kan tahu benar bagaimana tabiatnya,"ujar seorang teman dekat.
Risna hanya bisa menatap awan-awan putih yang menyelimuti langit kota Medan saat itu. Dibalik rindangnya pohon matoa, ia mencoba memahami...menyelami...ia tahu benar bahwa keputusan itu bagaikan tantangan arung jeram.
"Deras memang...curam memang...tapi menyenangkan bermain dengan maut..."ujarnya lirih. "Apa?"tanya sang teman yang tidak paham maksud dibalik perkataaan Risna.
"Hah, tenanglah kawan, Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang dia macam-macam ketika sudah menikahi ku, akan kupotong kunung-nya,"ujarnya lantang sambil tertawa.
..Aku tidak mungkin melakukannya, aku punya anak-anak yang harus tetap bangga atas ayahnya. Aku kalah. Kalah dalam permainannya. Kalah dalam medan perang yang kupilih sendiri.
ia menunduk...menunduk...semakin dalam...berupaya mencari kekuatan yang dulu pernah tertanam di hatinya..
(suci, 10/06/08)
Bangsat!!! Mudah sekali ia mengucapkan kalimat-kalimat itu. Tidakkah ia pernah mendengar jika manusia juga punya batas kesabaran? Anjing!!
Dilemparnya telepon genggam yang berisikan pesan singkat dari pasangan hidupnya itu. Entah mengapa, tidak lagi ia merasa terharu saat membaca pesan-pesan pendek itu. Bahkan kata percayapun kini tidak terbersit lagi di kepalanya.
"Komitmen ku adalah untuk mencintai dan menjagamu, hingga kapanpun,"
ANJINGGGG!!! Apa maunya??!!
Kembali ia mengingat kata-kata terakhir di pesan yang segera berpindah ke box trash. Ia begitu geram, karena lelaki tua itu tidak lagi punya keberanian untuk mengucapkan langsung kalimat itu dengan bibir-bibirnya yang sudah keriput itu.
Si wanita yakin, laki-laki itu pasti memiliki lebih keberanian jika harus berhadapan dengan para perek-perek itu. Cuiihhhh....rasa jijik langsung menyelimutinya..
Setetes demi tetes, air mata menetes membasahi pipi-pipinya yang sudah layu dimakan zaman. Rambutnya yang sudah mulai meninggalkan jejak-jejak pitak di kulit kepalanya, tidak lagi mampu menjadi mahkota penghias diri.
"Aku sadar aku tidak lagi cantik, tidak lagi sehat..tapi apakah pantas kau perlakukan aku seperti itu.??"ujarnya sambil terisak dibalik kelamnya kamar seluas tiga kali tiga meter itu.
Ia teringat saat-saat semua orang-orang terdekatnya berupaya untuk menentang keinginannya menikahi laki-laki yang dipanggilnya, 'yang' itu. "Sudahlah, ris, hentikan ide konyolmu itu. Kau kan tahu benar bagaimana tabiatnya,"ujar seorang teman dekat.
Risna hanya bisa menatap awan-awan putih yang menyelimuti langit kota Medan saat itu. Dibalik rindangnya pohon matoa, ia mencoba memahami...menyelami...ia tahu benar bahwa keputusan itu bagaikan tantangan arung jeram.
"Deras memang...curam memang...tapi menyenangkan bermain dengan maut..."ujarnya lirih. "Apa?"tanya sang teman yang tidak paham maksud dibalik perkataaan Risna.
"Hah, tenanglah kawan, Aku pasti akan baik-baik saja. Jika memang dia macam-macam ketika sudah menikahi ku, akan kupotong kunung-nya,"ujarnya lantang sambil tertawa.
..Aku tidak mungkin melakukannya, aku punya anak-anak yang harus tetap bangga atas ayahnya. Aku kalah. Kalah dalam permainannya. Kalah dalam medan perang yang kupilih sendiri.
ia menunduk...menunduk...semakin dalam...berupaya mencari kekuatan yang dulu pernah tertanam di hatinya..
(suci, 10/06/08)
Sabtu, 31 Mei 2008
Cinta Karena Komitmen
"Menurutmu, apa benar wanita butuh komitmen?"tanyanya padaku.
"Tentu..tidak mungkin jika memang ada perasaan antara kalian, lalu kau membuatnya menggantung begitu saja dengan status yang tidak jelas,"jawabku.
Sejenak mimiknya terlihat bak seorang profesor yang tengah sibuk berfikir. Kedua kakinya melipat ke dada. Tangan kanannya menompang dagu sementara tangan lainnya berpangku di atas kedua lututnya. Sesekali ia memperbaiki tatanan rambutnya, berusaha tetap terlihat relaks. Tapi ku tahu, ia sedang memupuk keberaniannya.
"Lalu, menurutmu aku harus menyatakan perasaanku?"tanyanya lagi.
Ya, iyalah. Masa iya dong. jawabku di dalam hati.
"Apa kau mau membuatnya terus menunggu? Mungkin saja hari ini sudah sekian laki-laki meminta belas cintanya.."jawabku mencoba memanas-manasinya.

Sekali lagi, suasana kembali sunyi. Hanya suara elang-elang Bondol yang tengah mengejar mangsa, terdengar mengisi waktu diantara kami. Kucoba menahan hatiku, tidak sekalipun aku memandangnya. Satu dua butir batu kerikil yang menjadi alas tubuh kami berdua, ku lempar demi mengalihkan perhatian. Karena ku tahu ia sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Baiklah. Sebenarnya aku sudah lama suka pada mu". Haah, akhirnya kata-kata itu terucap juga. Mengapa lama sekali ia baru menyadari perasaannya, setelah sekian lama sinyal-sinyal cinta kukirimkan untuknya. "Bagaimana dengan mu?"tanyanya.
Aku terdiam, berfikir mencari kata-kata yang tepat untuknya. Kata-kata yang kami berdua tidak akan melupakannya. "Bagaimana?"sekali lagi ia bertanya, dan aku pun tetap diam. Dasar laki-laki, apa ia tidak tahu diam itulah seluruh jawabanku.
Saat keberanian itu muncul, kuangguk kan kepalaku. Sekali...dua kali, dan akhirnya kuberanikan diri memandang ke dalam matanya.."ya, aku juga suka padamu,"terbata-bata ku menjawabnya.
Kami pun tersenyum. Tidak pernah terbayangkan, jika lelaki satu ini akhirnya menanggapi sinyal-sinyalku. Setelah sekian lama menunggu, laki-laki bodoh ini, tetap melihatku sebagai teman. Meski, teman laki-laki ku yang lainnya, sudah berusaha membuka matanya.
"Jadi bagaimana, apa sejak hari ini kita jadian?"tanyaku. "ya, tentu saja mengapa tidak. Jika memang harusku nyatakan itu,"ujarnya sambil menyenggol jemari-jemariku tanpa menggenggamnya. Ya, kami memang masih malu-malu.
**********************************************************************************
Terimakasi sayang, atas keberanianmu saat itu. Elang-elang di sarang itu, menjadi saksi kita berdua. Angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan bambu-bambu itu, terus mengumandangkan cinta kita. Juli nanti, menandakan cinta kita. Lima tahun sudah kita merajut perkenalan ke perkenalan lainnya. Semoga tahun ini menjadi akhir sekaligus permulaan bagi kisah cinta kita. Berbalutkan kebaya putih, akan ku sambut dirimu di atas pelaminan. (suci)
"Tentu..tidak mungkin jika memang ada perasaan antara kalian, lalu kau membuatnya menggantung begitu saja dengan status yang tidak jelas,"jawabku.
Sejenak mimiknya terlihat bak seorang profesor yang tengah sibuk berfikir. Kedua kakinya melipat ke dada. Tangan kanannya menompang dagu sementara tangan lainnya berpangku di atas kedua lututnya. Sesekali ia memperbaiki tatanan rambutnya, berusaha tetap terlihat relaks. Tapi ku tahu, ia sedang memupuk keberaniannya.
"Lalu, menurutmu aku harus menyatakan perasaanku?"tanyanya lagi.
Ya, iyalah. Masa iya dong. jawabku di dalam hati.
"Apa kau mau membuatnya terus menunggu? Mungkin saja hari ini sudah sekian laki-laki meminta belas cintanya.."jawabku mencoba memanas-manasinya.
Sekali lagi, suasana kembali sunyi. Hanya suara elang-elang Bondol yang tengah mengejar mangsa, terdengar mengisi waktu diantara kami. Kucoba menahan hatiku, tidak sekalipun aku memandangnya. Satu dua butir batu kerikil yang menjadi alas tubuh kami berdua, ku lempar demi mengalihkan perhatian. Karena ku tahu ia sedang mengumpulkan keberaniannya.
"Baiklah. Sebenarnya aku sudah lama suka pada mu". Haah, akhirnya kata-kata itu terucap juga. Mengapa lama sekali ia baru menyadari perasaannya, setelah sekian lama sinyal-sinyal cinta kukirimkan untuknya. "Bagaimana dengan mu?"tanyanya.
Aku terdiam, berfikir mencari kata-kata yang tepat untuknya. Kata-kata yang kami berdua tidak akan melupakannya. "Bagaimana?"sekali lagi ia bertanya, dan aku pun tetap diam. Dasar laki-laki, apa ia tidak tahu diam itulah seluruh jawabanku.
Saat keberanian itu muncul, kuangguk kan kepalaku. Sekali...dua kali, dan akhirnya kuberanikan diri memandang ke dalam matanya.."ya, aku juga suka padamu,"terbata-bata ku menjawabnya.
Kami pun tersenyum. Tidak pernah terbayangkan, jika lelaki satu ini akhirnya menanggapi sinyal-sinyalku. Setelah sekian lama menunggu, laki-laki bodoh ini, tetap melihatku sebagai teman. Meski, teman laki-laki ku yang lainnya, sudah berusaha membuka matanya.
"Jadi bagaimana, apa sejak hari ini kita jadian?"tanyaku. "ya, tentu saja mengapa tidak. Jika memang harusku nyatakan itu,"ujarnya sambil menyenggol jemari-jemariku tanpa menggenggamnya. Ya, kami memang masih malu-malu.
**********************************************************************************
Terimakasi sayang, atas keberanianmu saat itu. Elang-elang di sarang itu, menjadi saksi kita berdua. Angin sepoi-sepoi yang menggoyangkan bambu-bambu itu, terus mengumandangkan cinta kita. Juli nanti, menandakan cinta kita. Lima tahun sudah kita merajut perkenalan ke perkenalan lainnya. Semoga tahun ini menjadi akhir sekaligus permulaan bagi kisah cinta kita. Berbalutkan kebaya putih, akan ku sambut dirimu di atas pelaminan. (suci)
Jumat, 30 Mei 2008
Nafsu Membutakannya
Wanita itu menangis dan menangis. Lampu kamarnya begitu redup, seredup hatinya menahan luka. Kesetiaan, kepercayaan, dan rasa cintanya, runtuh seketika. Saat dia yang menjadi pasangan hidupnya, semakin jauh...jauh...dan menjauh.
Pria itu tertawa terbahak-bahak. Dirangkulnya perempuan semohai dan berpakaian ketat itu. Badan mereka tergoncang-goncang begitu asiknya. Entah karena sensi humor mereka yang memang bagus, atau hanya mencari kesempatan di balik tawa canda itu.
Wanita itu merenung, seusai tetes mata airnya yang terakhir berlinang. Secara perlahan, ia menggerakkan jemari-jemarinya yang memang sudah lemah itu, merangkai kata-kata hatinya. "Aku sudah tidak tahan, ia harus tahu perasaanku. Aku bukan wanita yang bodoh..."
Wanita seksi itu terus memandang laki-laki setengah baya di sampingnya itu. Sempat terbesit rasa kasihan pada lelaki yang baru dikenalnya setahun terakhir itu. Pria yang sudah memiliki empat anak, tiga putri dan satu putra bungsu. Juga seorang istri yang sepuluh tahun terakhir ini sakit-sakitan karena mengindap kanker di tubuhnya.
Lelaki itu jarang membicarakan keluarganya, seakan-akan ia tidak ingin terlalu ambil pusing dengan keluarga yang ia tinggalkan di kampung itu. Ia terbawa arus rekan-rekan sekerjanya, yang gila perempuan. Meski di hatinya, sejujurnya, ia akan mati jika kehilangan keluarganya.
"sayang, aku sudah mencoba dan berusaha untuk berfikir bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi saat kau pergi di sana, sama seperti yang kau katakan padaku. Tapi aku tidak bisa. Karena begitu banyak kejanggalan dengan sikap dan polah mu saat engkau kembali ke rumah".
"Aku sadar tubuhku sudah tua, tidak lagi bisa seiring dengan nafsumu. Tapi aku tidak mau lagi kau sakiti, sudah cukup derita yang ku tanggung dari wanita-wanita terdahulu mu itu. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki perasaan dan kesabaran. Jadi tolonglah tinggalkan kami dengan perasaan yang aman saat kau kembali mengais-ngais rejeki di luar sana,".
Sesaat, ia memandangi rentetan-rentetan kata yang ia rajut sesuai suara hatinya itu. Ia rela jika akhirnya nanti keputusan pahit akan menjadi akhirnya. Karena ia tidak lagi mau, hatinya hancur hingga membawanya ke liang lahat.
Dipandanginya, anak laki-laki bertubuh gembul di sampingnya. "Ia tidak tahu apa-apa, apa yang harus ku lakukan...tidak mungkin ku melukai perasaannya, dia pasti akan sangat membenci ayahnya...ya tuhan, apa yang harus ku lakukan". Air matanya kembali menetes, dan si anak terbangun, kebingungan melihat si ibu menangis sepanjang hari.
"Sudah, ayo pulang, mas..sudah malam,"
"hah, sewot sekali kau, sama seperti istriku," sambil ia beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya, sambil di papah sang wanita.
*************************************************************************************
laki-laki....entah mengapa mereka dilahirkan dengan tabiat yang seperti binatang. Sekali mengecap nikmatnya darah, mereka akan terus berburu. Semoga dia tidak...
(suci)
Pria itu tertawa terbahak-bahak. Dirangkulnya perempuan semohai dan berpakaian ketat itu. Badan mereka tergoncang-goncang begitu asiknya. Entah karena sensi humor mereka yang memang bagus, atau hanya mencari kesempatan di balik tawa canda itu.
Wanita itu merenung, seusai tetes mata airnya yang terakhir berlinang. Secara perlahan, ia menggerakkan jemari-jemarinya yang memang sudah lemah itu, merangkai kata-kata hatinya. "Aku sudah tidak tahan, ia harus tahu perasaanku. Aku bukan wanita yang bodoh..."
Wanita seksi itu terus memandang laki-laki setengah baya di sampingnya itu. Sempat terbesit rasa kasihan pada lelaki yang baru dikenalnya setahun terakhir itu. Pria yang sudah memiliki empat anak, tiga putri dan satu putra bungsu. Juga seorang istri yang sepuluh tahun terakhir ini sakit-sakitan karena mengindap kanker di tubuhnya.
Lelaki itu jarang membicarakan keluarganya, seakan-akan ia tidak ingin terlalu ambil pusing dengan keluarga yang ia tinggalkan di kampung itu. Ia terbawa arus rekan-rekan sekerjanya, yang gila perempuan. Meski di hatinya, sejujurnya, ia akan mati jika kehilangan keluarganya.
"sayang, aku sudah mencoba dan berusaha untuk berfikir bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi saat kau pergi di sana, sama seperti yang kau katakan padaku. Tapi aku tidak bisa. Karena begitu banyak kejanggalan dengan sikap dan polah mu saat engkau kembali ke rumah".
"Aku sadar tubuhku sudah tua, tidak lagi bisa seiring dengan nafsumu. Tapi aku tidak mau lagi kau sakiti, sudah cukup derita yang ku tanggung dari wanita-wanita terdahulu mu itu. Aku hanya seorang perempuan yang memiliki perasaan dan kesabaran. Jadi tolonglah tinggalkan kami dengan perasaan yang aman saat kau kembali mengais-ngais rejeki di luar sana,".
Sesaat, ia memandangi rentetan-rentetan kata yang ia rajut sesuai suara hatinya itu. Ia rela jika akhirnya nanti keputusan pahit akan menjadi akhirnya. Karena ia tidak lagi mau, hatinya hancur hingga membawanya ke liang lahat.
Dipandanginya, anak laki-laki bertubuh gembul di sampingnya. "Ia tidak tahu apa-apa, apa yang harus ku lakukan...tidak mungkin ku melukai perasaannya, dia pasti akan sangat membenci ayahnya...ya tuhan, apa yang harus ku lakukan". Air matanya kembali menetes, dan si anak terbangun, kebingungan melihat si ibu menangis sepanjang hari.
"Sudah, ayo pulang, mas..sudah malam,"
"hah, sewot sekali kau, sama seperti istriku," sambil ia beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya, sambil di papah sang wanita.
*************************************************************************************
laki-laki....entah mengapa mereka dilahirkan dengan tabiat yang seperti binatang. Sekali mengecap nikmatnya darah, mereka akan terus berburu. Semoga dia tidak...
(suci)
Kamis, 29 Mei 2008
uji coba yang pertama
tes...tes...hehehe, ini mah bukan cerita pendek, kalau pun iya akan pendek sekali..jadi selamat datang buat kalian-kalian yang tertipu dengan keberadaan blog ku yang satu ini. tapi sabar aja, karena gak akan lama lagi akan terisi cerita-cerita kok...jadi sabar ya...
Langganan:
Postingan (Atom)